‘Sesi’ Bapak Tri untuk Orangtua Mahasiswa Baru

Pertemuan IKOMA ITS dengan orangtua Mahasiswa Baru (13/10) agaknya tidak berakhir begitu saja bagi jurusan Teknik Elektro ITS. Memanfaatkan momen ini, Pihak Jurusan dibantu oleh Himatektro ITS berinisiatif mengundang para orangtua Mahasiswa Baru jurusan Teknik Elektro ITS untuk menghadiri forum kecil-kecilan yang telah dipersiapkan. Acara yang dimulai pada pukul 10.30 di gedung AJ ruang Aula ini rupanya cukup menyedot perhatian dari para orangtua. Pasalnya, salah satu tujuan dari forum kecil ini juga menjelaskan sistem perkuliahan yang diterapkan dari ITS. Agaknya para orangtua juga ingin memahami bagaimana sistem yang diterapkan sehingga sewaktu-waktu dapat memantau putra-putri mereka yang tengah menuntut ilmu di kampus perjuangan ini.

Demi para orangtuanya yang hadir, para mahasiswa baru rupanya telah menyiapkan suguhan pembuka, yakni paduan suara dan akustik. Nyanyian yang mereka bawakan begitu merdu hingga mungkin yang menyaksikannya tak akan percaya bahwa persiapan yang dilakukan hanya beberapa harisaja.

Sajian setelahnya, tidak jauh dari apa yang sudah direcanakan. Bapak Tri memaparkan bagaimana kehidupan di Elektro, lengkap dengan kurikulum dan sistem yang menyertainya. Meski sekilas tampak membingungkan dan sempat muncul banyak pertanyaan, dengan terperinci dijelaskan oleh beliau agar nantinya keluar dari sana, para orangtua sudah tidak lagi bingung dengan kehidupan Elektro yang akan dijalani oleh putra-putrinya. Beberapa kali, bapak Tri menekankan, “Perlunya endurance di Teknik Elektro, bahkan kajur pun tidak dapat tenang”, ujarnya.  Hal ini mewakili apa yang telah beliau sampaikan bersama dengan Primaditya Sulistijono, Ketua Himatektro FTI ITS dalam slide kegiatan mahasiswa, bahwa perkuliahan di Elektro sarat dengan kelelahan luar biasa.

Namun bukan berarti dengan kesibukan tersebut mahasiswa tak dapat membuahkan prestasi. Sebagai bukti, bapak Tri sudah mengundang pula para mahasiswa Elektro yang berprestasi. Salah satunya adalah Achmad Hadi Dahlan dan Kiki Windasari yang sebelumnya telah berhasil merajai Kontes Robot Seni Indonesia. Ada juga Wahyudi, yang turut andil dalam Tim Disaster Game Box dan menjuarai beberapa kategori sekaligus dalam Pekan Mahasiswa Nasional XXV di Yogjakarta.

“Kuliah di Elektro sulit atau pun mudah, tergantung mahasiswa, namun dari himpunan siap dengan tim khususnya untuk mengatasi kesulitan perkuliahan”, tambah beliau. Sontak, pernyataan tersebut dapat memberikan kelegaan bagi para orangtua yang sempat khawatir. Artinya, putra-putri mereka tetap dapat terbantu dalam menjalani perkuliahannya.

Menjadi PR tersendiri bagi mahasiswa Teknik Elektro ITS ketika salah satu orangtua mahasiswa baru yang juga alumni Elektro ITS E-22 menyatakan, “Banyak yang cerita, Elektro ITS kalah sama PENS”. Segi prestasi meski sudah terkejar, jelas perlu peningkatan karena PENS tidak akan diam setelah KRI dijuarai ITS. Rupanya dari segi fasilitaslah yang beliau maksud. Karena ternyata PENS bergelimang alat baru, sementara Elektro dinilai masih kurang begitu bisa mengejarnya. Jika pihak jurusan mengusahakan adanya fasilitas, tentunya para mahasiswa harus siap dengan pemaksimalan diri untuk cetak prestasi.(GA)

About the author: admin