Bukan Sekolah Mahasiswa Sembarangan

Elektro ITS (25/11) – Pada hari Sabtu (24/11) selama dua hari,  Departemen Ristek Himatektro mengadakan sebuah pelatihan yang tidak biasa, untuk mempersiapkan mahasiswa biasa menjadi luar biasa. Pelatihan yang bernama Mawapres  School diikuti oleh mahasiswa teknik elektro dari angkatan 2010 hingga 2012 dan mengundang pemateri-pemateri yang handal. Defin (e50), kepala departemen Ristek Himatektro, menuturkan bahwa tujuan dari Mawapres School adalah sebagai sarana pembibitan,  karena bukan hanya IP yang dilihat untuk menentukan seorang mawapres tapi juga pengabdian masyarakat dan prestasi di luar akademis.

Pada hari pertama, materi seputar wawasan mawapres langsung digeber oleh Dimas Okky (e49), mawapres 1 elektrotahun 2011. Ternyata, ada beberapa unsure penilaian untuk memilih mawapres, seperti IPK, karya tulis ilmiah, ko-ekstrakurikuler, bahasa asing, dan kepribadian. Dimas juga berbagi pengalamannya tentang pemilihan mawapres ditingkat institute dan nasional.

 

Materi penulisan karya tulis ilmiah yang dibawakan oleh Aang (e49), salah satu mahasiswa teknik elektro yang telah memiliki banyak pengalaman dalam karya tulis. Dari  materi sebelumnya diketahui bahwa prestasi dalam karya tulis ilmiah tenyata memiliki bobot yang paling tinggi. Setelah serius memperhatikan penjelasan tentang bagian-bagian karya tulis ilmiah,  suasana menjadi lebih riuh dengan adanya simulasi membuat judul karya tulis dari beberapa kata yang sudah disediakan.

 

Seorang pemenang adalah orang yang telah merencanakan apa saja yang akan dilakukan. Materi di hari kedua tentang life mapping dibawakan oleh dosen yang inspiratif, yaitu pak Soehardjoepri. Beliau mengajak peserta untuk merencanakan hidup mulai bangun tidur hingga esok,  bahkan beberapa puluh tahun lagi. Dengan latarbelakang matematika, beliau mendeskripsikan sifat-sifat juara dengan rumus matematika yang membuat peserta semakin tertarik.

Pada saat penjurian mawapres terdapat sesi presentasi yang memiliki bobot cukup tinggi,  sehingga kemampuan calon mawapres membawakan materi juga perlu dilatih. Materi seput arcara presentasi  yang baik dibawakan oleh pak Bandung dari tim penalaran ITS. Kemampuan berbahasa asing juga mempengaruhi penilaian. Pelatihan bahasa Inggris di sesi berikutnya rencananya berupa diskusi kelompok, namun sayangnya ms.Betzy sebagai instruktur lebih banyak membahas TOEFL dan speaking.

 

Secara umum, para peserta dan panitia puas dengan keseluruhan acara. Salah satu peserta,  Nas dari angkatan 2012,  mengaku bahwa persepsinya tentang mawapres berubah setelah pelatihan ini. “Ternyata bukan sebatas akademik”, ujarnya. Selagi tahun pertama,  dia sudah berencana untuk mempersiapkan diri untuk nantinya mengikuti pemilihan mawapres dengan cara aktif di  organisasi dan ikut berbagai kompetisi. Diharapkan peserta Mawapres School  lebih terpacu untuk lebih mengembangkan diri dan berprestasi dalam berbagihal. “Mawapres bukan hanya predikat gelar atau prestasi. Mawapres ada karena kontribusinya buat sesama”, kata Defin. (GG)

About the author: admin