Berkenalan dengan IINUSAT

Perkembangan dalam bidang satelit akhir ini mulai muncul ke permukaan, hal ini ditandai dengan munculnya beberapa komunitas satelit di Indonesia, terlebih saat pemerintah memberikan sebuah proyek pembuatan satelit nano kepada konsorium Inspire, kerjasama dari enam perguruan tinggi di Indonesia yakni ITS, ITB, ITT Telkom, UGM, UI, dan PENS serta satu lembaga antariksa Indonesia LAPAN.  Komunitas ini dikenal dengan IINUSAT (Indonesia Inter University Satelite).  Satelit nano ini diperuntukkan untuk komunikasi data seperti SMS.  Keberadaan IINUSAT menginspirasi beberapa universitas terutama universitas yang tergabung di IINUSAT untuk membentuk suatu komunitas satelit dalam lingkup universitas, tidak terkecuali ITS.  Di ITS telah terbentuk komunitas satelit yakni ITS-SAT (ITS Satelite).  Berikut sedikit cuplikan wawancara dengan anggota ITS-SAT saat di temui di Laboratorium Antena dan Propagasi, B306, Teknik Elektro ITS.  Mereka adalah Rheyuniarto S. Asthan, Vivin Violita, Ainun Jariyah, Siti Mutmainah dan Rizadi Sasmita Darwis.

Apakah perbedaan ITS-SAT dan IINUSAT?

Rheyuniarto :     Seperti yang sudah dijelaskan, IINUSAT merupakan sistem komunikasi untuk transfer data kalau ITS-SAT berupaya secara mandiri mengembangkan sistem komunikasi yang kemarin sudah ada dari IINUSAT 001 dan lebih kepada pengiriman citra, cuma mungkin berbeda dengan kemarin, kalau kemarin ada uplink dan downlink, tapi untuk ITS-SAT secara simplex atau downlink.

Rizadi : Jadi perbedaan dasar IINUSAT dan ITS-SAT sendiri adalah IINUSAT dari proyek pemerintah, sedangkan ITS-SAT adalah proyek dalam ITS karena keinginan dari mahasiswa alumni IINUSAT yang telah membuat satelit tadi ingin membuat satelit ITS sendiri, maka dibangun proyek yang namanya ITS-SAT.

Jadi ITS-SAT milik ITS sendiri, tidak bergabung dengan universitas lain, seperti itu?

Rizadi : Ya, itu hanya di lingkungan ITS saja, Komunitas Satelit ITS ini terdiri dari beberapa fakultas atau jurusan, yakni dari Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Fisika, Geomatika dan beberapa jurusan lain.  Karena yang ingin mengembangkan satelit tidak hanya Teknik Elektro, jurusan lain ingin mengembangkan juga bisa.

Di Universitas lain apakah ada komunitas satelit juga?

Rizadi : Di lingkup universitas juga ada yang namanya komunitas satelit atau biasanya tergabung dalam unit kegiatan mahasiswa, termasuk enam universitas yang tergabung di IINUSAT.  Sebenarnya komunitas satelit itu muncul pada awalnya di ITS, dan universitas lain bekerjasama untuk membentuk komunitas satelit indonesia.  Jadi universitas lain juga membangun komunitas satelit di universitas masing-masing, yang saya ketahui juga di ITT Telkom, komunitas satelitnya juga sangat berkembang.

Kalau di ITS-SAT, bisa dijelaskan perkembangan saat ini?

Rheyuniarto : Kalau untuk ITS-SAT difokuskan untuk pengiriman citra dan pengembangan dari sistem komunikasinya itu sendiri. Nah itu sistem komunikasi itu sendiri ada beberapa modul penyusun.  Untuk perangkat itu sendiri baik ada channel coding, decoding, lalu ada juga modulator demodulator dimana menggunakan GMSK dengan bit rate yang lebih besar dari sebelumnya yakni 19,2 bps, lalu ada juga kita gunakan up sama down conveter untuk bagaimana caranya mendapatkan frekuensi yang kita inginkan yakni 2,4 GHz.

Vivin : Di sistem satelit itu ada dua bagian, yakni satelit itu sendiri dan perangkat penerima atau bisa disebut ground station, dimana saya sedang mengembangkan antena helixs quadipilar.  Untuk ground station ada juga antena mikrostrip dan banyak lagi macamnya.  Mungkin kalau dibilang pengembangan ada yang membuat antena baru, ada juga mengoptimasi atau mengembangkan antena yang sudah ada, dan antena helixs ini riset dari mas-masnya kemarin.  Untuk satelitnya pun sama, ada yang baru dan mengembangkan yang sudah ada.  Teknologi yang kami gunakan sebenarnya tergantung dengan frekuensi yang kami gunakan, kalau sekarang ITS-SAT bekerja pada frekuensi 2,4 GHz otomatis ukuran atau parameter yang lain bakalan berubah, jadi itu yang kami kritisi.

Ainun Jariyah : Kalau dibagian saya membahas channel coding, cuma disini diincludekan sama cara mengcapture gambar dengan menggunakan kamera.  Proses pengcapture, kami memprogram kamera tersebut dimana program yang kami gunakan adalah bahasa pemograman VHDL dengan hardware itu FPGA, untuk IINUSAT menggunakan mikrokontroler, sedangkan disini kami mencoba menggunakan FPGA yang pada umumnya jarang digunakan.  Mungkin di luar negeri lebih sering, kalau disini masih jarang.

Rheyuniarto : Implementasi satelit jarang digunakan.  Untuk FPGA sudah diimplementasikan ke aplikasi lain, cuma untuk satelit masih minim diimplementasikan.  Jadi kamu mencoba menggunakan FPGA itu sendiri.

Siti : Kalau di satelit, codding dulu habis itu ke modulator, habis dari modulator ada penghubungnya yakni conveter, dimana conveter itu membangkitkan dan mengurangi frekuensi.  Untuk ke stasiun bumi butuh daya yang cukup besar, biasanya di RF dibutuhkan power amplifier yang dipancarin antena.  Kemudian dipancarin ke ground station kemudian bagian saya yakni berupa LNA.  Risetnya sama dengan power amplifier tapi lebih ditekankan ke noise karena pengiriman pasti banyak noise yang ditimbulkan sehingga mempengaruhi pengiriman citra itu sendiri.  Proses selanjutnya kita butuh down conveter untuk menurunkan frekuensi 2,4 GHz yang sensitif sekali, baru masuk ke decoder dan terakhir encoding, diproses kemudian hingga gambar terlihat.

Demikian, sedikit wawancara dengan anggota ITS-SAT.  Kedepannya, agar Komunitas Satelit di dalam negeri dapat menjadikan sebuah tonggak baru serta memberikan inspirasi demi kemajuan teknologi dan komunikasi di Indonesia.

About the author: admin