KRI Frans Kaiseipo & KRI Diponegoro, Tercanggih Milik Negeri

Studi Ke Pemerintahan dari Hublu secara drastis membuka mata para Mahasiswa Teknik Elektro ITS yang turut dalam kunjungan ke Pangkalan Militer Angkatan Laut di Surabaya Utara. Mereka yang sehari-harinya mungkin hanya melihat dunia elektro dari segi industri saja kini melihat karya nyata elektroteknik dalam bidang militer, kapal perang SIGMA Class. Dengan menyandang nama ‘Frans Kaiseipo’ dan ‘Diponegoro’, dua kapal perang tercanggih yang dimiliki Angkatan Laut Indonesia berlabuh di Surabaya.

Jangan bayangkan kapal dengan layar terkembang layaknya Phinisi, karena SIGMA Class ini jauh berbeda. Dengan bentuk yang didesain agar dapat bertempur secara maksimal dan sistem terintegrasi antar fungsi dalam kapal ini menjadikannya tercanggih di antara kapal perang milik Indonesia.

Frans Kaiseipo - wikipedia

“Di masa depan, bukanlah kecepatan yang menjadi tolak ukur kecanggihan, melainkan sistem di dalamnya. Sistem yang memungkinkan Kapal yang tidak dapat terdeteksi radar misalnya atau kapal yang dapat membalikkan serangan kembali ke pengirimnya,” begitu menurut salah seorang kru di KRI Frans Kaiseipo.

Sangat beruntung bagi kami dapat menjelajahi kapal perang tersebut, meski tidak dapat ditelusuri keseluruhannya karena keterbatasan waktu dan pembatasan dari kru kapal. Jelajah kami diawali dari Machinery Control Room (MCR), yang merupakan pusat dari control sistem kapal. Dalam penjelasan dapat disimpulkan bahwa di MCR ini, terdapat beberapa fungsi yang memungkinkan kru dapat langsung mengetahui kondisi terkini seluruh bagian kapal dan menghandlenya dengan bantuan fasilitas. Beberapa diantaranya :

  1. Sistem kelistrikan dikontrol menggunakan 3 komputer, yang terdiri dari 1 Main dan 2 Auxilliary yang berbasis GUI(Graphic User Interface), selayaknya Operating System seperti Windows, sehingga mudah dioperasikan.
  2. Sensor-sensor yang tersebar di seluruh ruangan dapat dimonitor dari MCR, contohnya saja, fire detector dan smoke detector.
  3. LPU, Local Processing Unit yang berisi unit elektronika dengan fungsi pemproses sinyal kontrol.
  4. Automated Ship Error Handling, sebagai fungsi kendali error secara otomatis saat ditemukannya error, bahkan juga terdapat sistem untuk back-up utamanya kelistrikan.

Dengan fungsi yang vital, tak heran ruangan ini dijaga 24 jam penuh dan ditempatkan benar-benar terlindungi dari sisi terluar kapal.
Kemudian dari MCR dilanjutkan ke Main Engine Room di lantai yang lebih rendah, yang berisi mesin utama penggerak kapal dan kelistrikan kapal yang menggunakan Generator Diesel. Meski dari MCR kondisi dan kontrol di Engine Room dapat diketahui dan dikendalikan, seringkali kru turun ke ruang ini untuk benar-benar memastikannya.

Berlanjut ke ruang PIT (Pusat Informasi Tempur) yang berfungsi sebagai pusat analisa target. Kebetulan saat kunjungan, terdapat simulasi yang dilangsungkan. Berbekal Kamera CCTV, kondisi luar dapat diketahui dan di ruang ini diambil keputusan dan disampaikan dari jarak jauh. Rupanya Kendali persenjataan juga berada disini, seperti rudal, meriam dan torpedo. Karena dalam ruangan ini terdapat beberapa komputer, setiap komputer dapat disetting dan disesuaikan untuk difungsikan sebagai kontrol senjata yang mana. Tak hanya senjata, di PIT, juga terhubung dengan radar. Radar yang diwanti-wanti sebagai mata kapal, karena tanpa adanya radar, navigasi dalam pertempuran akan sangat sulit. Radar yang dimiliki dalam SIGMA Class ini pun tak hanya radar di permukaan laut, tetapi juga di bawah pemukaan laut yang memanfaatkan sonar.

“Radar yang kami miliki dapat mendeteksi hingga 200 mil. Ada pesawat diterbangkan dari Malang pun kami tahu,” ujarnya.

Akhir dari kunjugan berada di anjungan, ruang kendali kapal. Di ruang ini lah arah laju kapal dapat diatur. Di luar dugaan, kemudi yang biasanya terbayang dalam ukuran besar dan berbentuk lingkaran, ternyata dalam kapal SIGMA Class ini hanya berupa layaknya perseneling mobil otomatis. Fungsinya dibagi menjadi dua, ada kendali independen dan kendali sinkro.

Sayangnya dari keseluruhan sistem yang menakjubkan tersebut, seluruhnya buatan asing. Kendali yang dibuat oleh Thales, U.K. dan Generator dari S.E.M.T. Pielstick , Jerman, misalnya. Dikeluhkan pula, karena merupakan buatan asing, kru hanya mampu sebatas mengoperasikan, tanpa mampu menangani bila terjadi kerusakan. Produsen luar negeri tersebut yang akan memperbaikinya.

Kapan ya, kita bisa berdayakan anak bangsa untuk membangun kapal tempur sendiri? Dengan kecanggihan yang begitu dituntut dalam persenjataan dan alusista, semestinya para ahli dan penggelut Elektroteknik utamanya Elektro ITS, dapat memacu diri untuk berkontribusi dalam bidang militer.(GA)

About the author: admin