klinik terapung yang ramah lingkungan

Siapa sangka, mengembangkan ide tentang sebuah klinik ramah lingkungan dapat membawa mereka menjadi jawara dalam sebuah kompetisi ? Itulah yang diwujudkan oleh salah satu perwakilan Teknik Elektro ITS yang berhasil menjadi juara dua dalam kompetisi “Go Green In The City” oleh Schneider. Bukan sekedar klinik biasa, namun klinik yang dimaksud adalah klinik terapung. Faktanya, klinik terapung bukanlah sesuatu yang baru di Kalimantan, namun tim yang digawangi Kharisma Bani Adam, Ahmad Faisal Haq, Ria Sasmita Utami, dan Priyo Edy Wibowo memodifikasi klinik terapung kovensional yang mendapat pasokan tenaga dari mesin diesel dengan photovoltaic cell (sel surya). Faisal, salah satu anggota menuturkan, proyek yang diberi nama “Green Floating Clinic” ini jauh lebih ramah lingkungan karena tidak menyebabkan berbagai polusi seperti yang dihasilkan mesin diesel. Selain itu, kegiatan operasional klinik terapung tidak lagi tergantung pada pasokan BBM yang terbilang langka di daerah tersebut.

Kompetisi yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara ini tidak hanya menekankan pada sisi ramah lingkungan saja, tetapi juga memiliki kriteria ekonomis. Dibandingkan dengan klinik terapung biasa, tentunya karya mereka jauh lebih murah. Posisi Kalimantan yang berada disekitar khatulistiwa membuat daerah tersebut selalu disinari matahari, sumber panas yang tidak perlu membayar untuk mendapatkannya. Bahkan, Adam menuturkan bahwa dalam perhitungannya tenaga yang dihasilkan oleh produk mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan klinik terapung pada kondisi penerimaan cahaya matahari yang minim. Biaya untuk membeli bahan bakar minyak dapat dipangkas serta pencemaran dapat ditekan, kombinasi yang sangat baik dalam rangka mengurangi polutan sekaligus menghemat biaya. Pihak Schneider Indonesia mengatakan bahwa nantinya ide ini akan direalisasikan sebagai CSR (Corporate Social Responsibility). Mewakili Indonesia pada babak final di Jakarta tanggal 15 Mei nanti, tim yang dibimbing oleh pak Dian Pramono ini akan bertemu dengan jawara dari beberapa negara di kawasan Asia Timur. Sebagai ketua tim, Adam menyatakan bahwa ini adalah kali pertama mereka mengikuti kompetisi dari Schneider dan akan mengusahakan yang terbaik terlepas dari apapun hasilnya nanti. Anggota yang lain juga satu kata dengan pernyataan ini.

Sebagai motivasi bagi mahasiswa Teknik Elektro yang lain, Adam menambahkan bahwa diluar kegiatan kuliah, ada baiknya mencari pengalaman lainnya. Mengikuti kompetisi adalah salah satunya.(GG)

About the author: admin