Satu Lagi Jawara Keilmiahan Terlahir di Jurusan Teknik Elektro, ITS

Surabaya – Minggu(28/4/2013) adalah acara puncak dari Mechanical City yang merupakan event besar jurusan Teknik Mesin, ITS. Berbagai kompetisi mulai dari two wheel slalom, Band Competition, Mading 3D, sampai dengan AEC (Alternative Energy Competition) digelar, yang bertempat di Jatim Expo International. Dari sana juga lahir jawara keilmiahan selanjutnya dari Jurusan Teknik Elektro. Sebagai jurusan yang besar dan terkenal dalam hal keilmiahan, bulan april tahun ini menjadi bulan bertebarnya jawara keilmiahan. Setelah LOKARINA 2013, GO Green in The City oleh Schneider Electric, kini juara keilmiahan lahir di AEC, Mechanical City 2013.

Mereka adalah Tim Green Aterator yang dibentuk oleh 3 Mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2011, Ardiansyah, Aditya Rifa Utama, dan M Januar Fathoni. Dengan mengusung topik Green Aerator : Inovasi Penyuplai Oksigen di Tambak Menggunakan Vertical Axis Wind Turbine yang Efisien dan Ramah Lingkungan sebagai Pengganti Aerator Konvensional Berbahan Bakar Solar dan Listrik PLN, mereka berhasil meyakinkan dewan juri pada kompetisi cipta teknologi alternatif tingkat nasional tersebut.

“Perasaan saya senang sekali, dan tidak menyangka karena karya yang lain canggih-canggih dan bagus” ungkap Ardiansyah saat mengetahui Tim-nya dinyatakan sebagai pemenang dalam AEC, Mecahnical City 2013.

”Alhamdulillah dan terima kasih untuk semuanya baik dukungan, doa ataupun yang lainnya”, tambah Aditya Rifa.

10 Tim dari 5 Universitas berhak mempresentasikan karya mereka pada acara Grand final Alternative Energy Competition. Tercatat 5 tim dari ITS lolos dalam daftar finalis yang di ikuti tim dari UGM, IPB, UNESA, dan UI. Event yang merupakan kali pertama digelar jurusan Teknik Mesin tersebut sukses menarik peserta dan pengunjung, melihat antusiasme yang tinggi dari masyarakat untuk mengikuti acara maupun sekedar untuk melihat dan mengunjungi acara tersebut.

kiri: M.Fatoni; tengah:Ardiansyah; kiri: Aditya

Keberhasilan tim Green Aerator tidak lepas dari kisah perjuangan mereka dalam mempersiapkan ide gagasan untuk mengikuti kompetisi. Teknologi yang mereka gagas dipersiapkan khusus untuk AEC, tidak heran dengan waktu yang relatif singkat disela-sela kegiatan kampus, mereka harus bekerja keras untuk menyelesaikan karyanya, mulai dari pembuatan alat, pengambilan data sampai persiapan untuk slide presentasi, Ardiansyah mengaku harus membolos beberapa mata kuliah dan terpaksa bekerja lebih sampai jam 4 pagi. Bukan berarti juga tidak ada kendala dalam menyelesaikan semua, permasalahan muncul saat desain alat mereka awalnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, setelah mencari titik kesalahannya, H-1 hari perlombaan baru muncul ide sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, selain itu kegiatan mereka dalam organisasi juga sempat menjadi kendala yang perlu mereka pecahkan.

Ide tim ini muncul saat mereka mencoba mengkolaborasikan teknologi yang sudah ada dengan permasalahan yang ada disekitar, mereka melihat masalah petani tambak yang mengalami kesulitan karena naiknya harga BBM terutama solar dipasaran. Dari sana mereka berharap teknologi ini mampu menjadi energi alternatif untuk petani tambak. Ide yang begitu sederhana dan simpel namun mudah diimplementasikan dan tentunya menjawab masalah yang ada di lapangan menjadi nilai lebih kenapa tim ini keluar sebagai juara. Mereka juga mengaku dalam memilih materi untuk dasar teori tidak sembarangan, berbekal jurnal-jurnal ilmiah dari Elsevier dan masukan dari dosen pembimbing ide gagasan karya ini diperkuat.

prototype dari Green Aerator

Untuk masalah keberlanjutan teknologi ini. Aditya Rifa mengungkapkan, “karya-karya yang telah ada, semoga tidak berhenti disini saja, akan tetapi dikembangkan lebih baik kedepannya dan insya Allah karya ini akan dikembangkan, bahkan ada keinginan untuk mengkomersilkan”.

“Rencananya karya ini terus dikembangkan, dan harapannya mendapat dukungan dari dosen yang nantinya memperoleh paten dan bisa diproduksi massal. Rencananya Green Aerator ini akan diuji coba di tambak keputih tambak dulu, setelah berhasil baru diuji coba di daerah lain”, tambah Ardiansyah dengan penuh harap untuk kemajuan teknologi Indonesia.

“Harapannya, teknologi di Indonesia dapat dikembangkan oleh mahasiswa-mahasiwa di Indonesia. Tidak hanya oleh peneliti-peneliti yang notabene dibayar oleh pemerintah. Mahasiswa sebagai agent of change harus berfikir global dan kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia. Pesannya adalah bahwa teknologi dapat dikembangkan oleh siapapun, tidak perlu kita menunggu menjadi professor atau ilmuwan, tetapi ciptakan teknologi mulai dari hal-hal yang sederhana”, tutup Ardiansyah mengemukakan harapannya untuk perkembangan teknologi di Indonesia yang lebih baik.(DR)

About the author: admin