SPARK : Safety Parking Berbasis IOT

Dewasa ini aksi pencurian motor sangat marak terjadi, terutama di lingkungan kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Hal itu lah yang menjadi salah satu alasan dari tim mahasiswa teknik komputer yang beranggotakan A.A Ngurah Surya L, Ahmad Aris Habibi, dan Kadek Sierly Saraswati menciptakan alat pengaman pada motor agar terhindar dari aksi pencurian. Alat ini bernama SPARK (Safety Parking Berbasis IOT). Cara kerja dari SPARK sendiri yaitu menggunakan accu pada motor sebagai power supply nya. Kemudian terdapat 2 macam pendeteksian dari perangkat hardwarenya, pertama apabila motor tersebut bergerak/berpindah tempat misalnya sejauh 4 meter dari posisi awal saat diparkirkan, maka SPARK akan mengirimkan notifikasi ke akun LINE smartphone yang kita miliki atau akun LINE teman-teman yang ingin kita beritahu, atau bahkan langsung mengirim notifikasi ke pihak kepolisian. Pendeteksian yang kedua yaitu apabila kunci kontak dimasukkan atau akan diputar, maka juga akan mengirimkan notifikasi. Selain itu kita juga bisa mengecek posisi motor kita hanya melalui smartphone. Karena selama smartphone kita terhubung dengan internet, kita dapat terus melakukan monitoring terhadap motor kita yang telah dilengkapi SPARK. Meskipun kita sedang berada pada jarak yang sangat jauh dengan motor kita.
SPARK juga telah memenangi berbagai perlombaan salah satunya yaitu Juara 1 XL Digital Leader 2016. Jadi, dengan menggunakan SPARK, sebenarnya kita sudah bisa melakukan tindakan pencegahan terhadap aksi pencurian. Karena beberapa indikasi motor itu akan dicuri yaitu apabila motor diangkat/dipindahkan secara paksa dan motor dihidupkan secara paksa.

Closing LPIM

Laskar Petir ITS Mengajar, merupakan sebuah program pengajaran yang diusung oleh Departemen Pengabdian Masyarakat Himatekro ITS. Kegiatan pengajaran yang difokuskan pada adik-adik kampung binaan usia TK – SD ini dimaksudkan untuk memberikan wadah bagi warga Himatektro untuk memupuk dan mengabdikan kepeduliannya dengan masyarakat sekitar, terutama melalui pendidikan.
Kegiatan yang telah dilakukan selama hampir satu tahun kepengurusan ini dirasa belum memenuhi cita-cita penanggungjawabnya. Tri Adi Kresna, selaku penanggung jawab LPIM bersama rekannya Aprilia Rahmayanti, berharap adik-adik binaan bisa sering mengikuti perlombaan, namun sayangnya masih mengikuti satu kali perlombaan dengan jumlah 6 orang peserta.
Menurut Adi, selama ini LPIM hanya fokus ke tujuan anggota Himatektro. Oleh karena itu, Pengmas kali ini mengadakan penutupan LPIM di Rumah Batik Jawa Timur (Kenjeran). Mereka berharap, di sana adik-adik binaan dapat belajar kesabaran dalam membatik, memperkaya kreativitas mereka, serta menambah pengalaman mereka untuk berkarya di luar.
Dalam penutupan LPIM ini Pengmas Himatektro ITS juga mengundang seluruh anggota Himatektro dengan harapan bisa mengetuk rasa kepedulian anggota HIMATEKTRO terhadap pendidikan usia dini serta mewadahi anggota Himatektro untuk menikmati kegiatan pengajaran yang Pengmas konsep.

NATIONAL SYMPOSIUM 2017, MOTIVASI MAHASISWA BERKEMBANG UNTUK SMART CITY

Hari sabtu akhir di bulan April, tepatnya tanggal 29 April 2017 menjadi puncak penutupan serangkaian acara sub event dari ELECTRA 2017. Pukul 8 pagi hari itu sedang terlaksana National Symposium yang bertemakan “Smart City for a Better Indonesia” dan bertempat di Graha ITS Surabaya. “Karena tema ELECTRA tahun ini mengangkat smart technology, implementasinya bisa diliat salah satunya di smart city. Dan smart city juga merupakan isu terkini yang masih sedikit diketahui oleh masyarakat dan mahasiswa. Bahkan banyak orang yang tidak tahu kalau sebenarnya Surabaya sudah mengimplementasikan smart city.” , ungkap Vathya selaku panitia.
Mengundang tiga pembicara hebat di bidang smart city sendiri, Graha ITS langsung dipenuhi para peserta yang ingin belajar dan mengetahui apa itu smart city. Pertama, yaitu Bapak Teguh Prasetya selaku Director of marketing PT. Alita. Beliau membuka materi pertama dengan Apa itu Smart City. Dilanjutkan oleh Bapak Bagyo Nugroho, selaku Vice President Enterprise Parenting Operation PT. Telkom yang memberi wawasan mengenai Smart Cities and Smart Nation. Menariknya, dua tokoh hebat ini merupakan alumni dari Teknik Elektro ITS pula, sembari mereka memberi pengetahuan kepada peserta, diselipkan juga nostalgia serta pengalaman lucu dari Bapak Bagyo dan Bapak Teguh ini semasa mereka menjalani kuliah di ITS dulunya, membuat suasana lebih santai dan segar pada kala itu. Kemudian disambung oleh Bapak Tiyo Avianto, founder dan CEO Cubeacon sebagai penutup materi. Di sela-sela acara para peserta juga disuguhkan hiburan dari performance Paduan Suara Mahasiswa ITS dan Komunitas ITS Jazz. Acara ditutup dengan sesi diskusi yang dipimpin oleh moderator bersama ketiga pembicara serta penyerahan kenang-kenangan dari panitia.
Besar harapan, sebagai mahasiswa kita tidak perlu takut atau minder untuk bisa berkontribusi dalam mengembangkan smart city sendiri. Dimulai dari lingkungan sekitar kita ataupun melalui penelitian karya ilmiah yang mencakup smart technology yang nantinya dapat diterapkan secara nyata di Indonesia. [VIP]

Elektroda

Elektro Peduli Desa merupakan sebuah wadah bagi seluruh elemen Fakultas Teknologi Elektro, khususnya mahasiswa, untuk menumpahkan rasa kepedulian yang dimilikinya serta kerinduan untuk menyalurkan ilmunya untuk masyarakat luas.

Desa Karangjati merupakan sebuah desa binaan yang telah dibina sejak Elektroda lahir, yaitu satu tahun yang lalu. Di desa ini, banyak anak yang merokok sejak kecil, gadis belia yang sudah menikah sejak lulus sekolah dasar, dan maraknya perceraian. Karena itulah, mahasiswa beserta seluruh stakeholder FTE memberikan seluruh empatinya untuk mangadakan kegiatan bakti sosial di desa ini.

Menurut Christian, penanggung jawab Elektroda 2017, di tahun ini Elektroda jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Kegiatan yang telah dilakukan oleh mahasiswa FTE telah tersebar merata bagi seluruh warga. Misalnya,  di tahun ini penyuluhan tentang demam berdarah, bahaya narkotika, pernikahan dini, dan pentingnya pendidikan telah diberikan baik kepada orang tua maupun anak-anak. Pembelajaran tentang Microsoft Office dan CorelDRAW juga telah diberikan kepada anggota karang taruna di desa Karangjati, sasarannya agar anak-anak dan pemuda Karangjati melek teknologi serta bisa mendesain suatu produk untuk diperjualbelikan nantinya. Selain itu mahasiswa FTE mengajak serta seluruh warga desa untuk melakukan kerja bakti membersihkan selokan, mengajari anak-anak tentang rangkaian listrik seri dan paralel sederhana, dan melatih ibu-ibu membuat kerajinan tangan dari kulit jagung dengan tujuan menjadikan mereka mandiri dengan menjual hasil kerajinan tangan yang mereka buat.

Seluruh warga Karangjati, stakeholder dan mahasiswa FTE merasa bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Karangjati dan bisa menjadi contoh bagi himpunan lainnya. Hal ini menjadi semangat bagi Himatektro untuk terus mengadakan Elektroda di tahun-tahun yang akan datang.

SOLAR COOL BOX

Solar Cool Box adalah salah-satu alat karya dari mahasiswa Teknik Elektro ITS. seperti pada namanya, solar cool box adalah alat untuk mendinginkan ikan yang Berbasis Sensor Suhu dengan Menggunakan Thermoelektrik dan Panel Surya

Alat ini memiliki beberapa komponen utama yaitu:
1. Cool Box
Box/kotak dengan pendingin thermoelektrik dipasang sebagai sumber pendingin. Terdapat ruang isolasi yang terdiri dari polystyrene, alumunium foil dan udara. Sistem ini berfungsi untuk menjaga suhu di dalam box agar tetap dingin.
2. Sistem Kontrol Suhu
Menggunakan ds18b20 sebagai sensor suhu untuk mengetahui suhu di dalam cool box. Suhu optimal pendinginan ikan sekitar 18 C. Apabila suhunya naik diatas 18 C, maka kipas pendingin akan aktif.
3. Panel Surya
Memiliki spesifikasi 80 Wp yang bisa menghasilkan tenaga listrik sekitar 400-550Wh pada kondisi normal. Ada sebuah kontroller yang berfungsi untuk mengendalikan tegangan yang sesuai dengan baterai.
4. Sistem pembuangan
Sistem pembuangan panas yang terdiri dari kipas pendingin yang dipasang pada thermoelektrik. Disamping itu ada heatsink yang telah dimodifikasi yang bertujuan untuk menurunkan suhu di dalam cool box
Setelah dilakukan ujicoba, diperoleh data bahwa daya yang dihasilkan oleh panel surya ialah sebesar 436,7 Wh. Data tersebut diperoleh ketika melakukan pengujian pada pukul 07.26-14.26. Kemudian juga telah dilakukan uji perbandingan antara cool box dan termos konvensional. Hasilnya adalah cool box memiliki suhu yang sama dengan termos konvensional yaitu pada titik 23 C.
Selain telah memenangkan berbagai perlombaan keilmiahan di berbagai wilayah di Indonesia, Cool box ini juga terbukti sangat aplikatif. Buktinya adalah beberapa nelayan di wilayah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur telah menggunakan alat ini agar ikan yang mereka punya tetap terjaga kesegarannya dan tetap memperhatikan sisi ramah lingkungannya. Kemudian alat ini juga akan diterapkan pada para nelayan di kampung mitra BEM FTI di wilayah pantai kenjeran, Surabaya.

Alat super keren ini di buat oleh Rizky Mendung Ariefianto, Akhmad Rizal Jiwo Prakoso, Muhammad Adam yang dibimbing oleh bapak Fajar Budiman, S.T., M.Sc

perebutan secangkir KOPISOLO

Kopisolo, ajang adu ide bisnis mahasiswa elektro
Sabtu (22/04/17) ruang AJ-102 dihadiri 5 tim yang dinyatakan lolos dari babak proposal Kopisolo (Kompetisi Ide Bisnis). 5 tim ini dipilih dari 27 tim yang mengajukan proposal bisnis pada kegiatan ini.
Dengan berbagai ide bisnis yang ditawarkan oleh peserta, juri yang diwakili oleh bapak Ir. Hendra Kusuma, M.Eng.Sc. dan bapak Drs. Soehardjoepri, M.Si. tampak antusias melihat geliat semangat berbisnis yang ada pada mahasiswa elektro ini. Hal ini disambut baik oleh juri, karena memang pada dasarnya sekarang ITS sedang menggalakan penanaman sifat kewirausahaan kepada setiap mahasiswa ITS.
Dari 5 tim yang lolos, ada tim yang bisnisnya sudah berjalan, ataupun yang bisnisnya masih dalam tahap pengembangan ide saja. Sebut saja tim CAMP-ON yang diketuai oleh Gayuh Wahyu N, tim ini menawarkan menawarkan peminjaman alat-alat outdoor secara online dengan menggandeng para pegiat kegiatan luar ruangan untuk meminjamkan alat-alatnya pada pelanggan yang membutuhkan.
Kompetisi ini berakhir dengan Tim BECET sebagai juara 1, Tim Bina Lapas sebagai juara 2, dan Tim MbadoQ sebagai juara 3. diakhir acara ketua departemen KWU Himatektro ITS menyampaikan bahwa “Hasil dari kompetisi ini diharapkan dapat dibawa pada ajang-ajang kewirausahaan lain yang lebih tinggi diluar lingkup ITS”. Tak lupa, setiap juri juga meninggalkan pesan-pesan serta motivasi bagi seluruh peserta Kopisolo. Dengan ini diharapkan setiap peserta nantinya tetap berkiprah pada bidang kewirausahaan di lingkup ITS maupun di lingkup yang lebih luas lagi. [ATR]

Electra Competition

Electra Competition 6 berakhir dengan tim SMAKONE dari SMAK 1 Penabur Jakarta sebagai juaranya. Namun ada cerita menarik dari tim Runner Up Electra ini, yaitu tim SMADA CS dari SMA Negeri 2 Lumajang. Saat diwawancarai tim ini mengaku sudah 2 kali berpartisipasi di ajang Electra Competition. Tepatnya pada electra competition 4 dan yang sekarang electra competition 6. Motivasi mereka memang tak tanggung tanggung, ingin menembus persaingan memasuki jurusan teknik elektro ITS. Motivasi ini mereka bawa beranjak dari kegagalan mereka menembus babak penyisihan pada electra Competition 4 dulu. “dulu kami sudah pernah ikut electra 4 saat kelas 10, tapi karena gagal tembus babak penyisihan, kami mencoba lagi di electra Competition 6 ini dan bersyukur bisa memasuki babak final” ucap Irfan, salah satu anggota tim SMADA CS. Mereka berharap dengan diadakannya electra Competition kedepan dapat memudahkan dan meningkatkan minat siswa siswi SMA masuk ke jurusan elektro dan lebih banyak mengetahui dunia teknologi dan elektro lagi. Saat diwawancara mereka mantap ingin masuk ke Jurusan Teknik Elektro ITS di tahun ini!

What New!

Baru saja Tim Event HIMATEKTRO telah menyelenggarakan salah satu perhelatan event akbar dari ELECTRA 2017, yaitu Electra 6 Competition untuk siswa/i SMA Se-derajat pada 12,18 dan 19 Februari lalu. Penasaran apa saja yang baru dalam Electra 6 Competition tahun ini?
Pertama, yaitu ditambahnya babak Perempat Final untuk para peserta. Sistem babak ini memakai konsep seperti acara Ranking 1, namun bukan menggunakan sistem gugur melainkan sistem akumulasi nilai terbanyak. Tim yang berhasil akan melaju ke babak Semifinal pada hari itu juga dengan adu rally serta permainan binggo melewati 17 pos untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Kedua, dibukanya region baru yakni Region Balikpapan. Mengingat antusiasme peserta Electra Competition yang semakin meluas sampai seluruh penjuru negeri, maka dibuka region baru tersebut dengan menempatkan SMAN 1 Balikpapan sebagai tempat babak penyisihan.
Selanjutnya, sebelum peserta melewati babak final dengan tantangan membuat alat anti maling dan cerdas cermat, 6 tim yang lolos menuju babak final diberi Pelatihan dari Divisi Workshop Teknik Elektro ITS. Alhasil, Tim SMAKONE dari SMAK Penabur Jakarta berhasil menjuarai Electra 6 Competition dengan nilai akhir 776. Disusul oleh Tim SMADA CS dari SMAN 2 Lumajang dengan 272 poin dan Tim JURI ELECTRA 6 dari SMA MTA Surakarta dengan perolehan nilai 210 poin. Jangan lewatkan juga subevent lain ELECTRA 2017, BARONAS dan National Symposium 2017 yang tidak kalah menariknya sebentar lagi! Nantikan kejutan dan atmosfer kompetisi yang lebih seru di Electra Competition tahun depan. Sampai jumpa! [VIP]

Teknologi sebagai tolak ukur suatu bangsa

Pada zaman ini, teknologi sudah menjadi salah satu tolak ukur besar dalam menentukan maju mundurnya suatu negara. Banyak keraguan dan kecemasan yang dirasakan masyarakat tentang kesiapan setiap individu muda yang nantinya akan mengemban beban berat dalam persaingan di era teknologi ini. Namun sudah selayaknya keraguan itu dapat ditepis, dengan kenyataan bahwa setiap generasi selalu berkembang untuk belajar. Apabila generasi muda mau menggali potensi mereka sejak dini untuk belajar mengembangkan teknologi, kemajuan dan kesejahteraan bangsa dapat dibangun dengan cepat. Karenanya, Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember menyelenggarakan Electrical
Competition, Tour, and Rally (ELECTRA) VI, sebuah rangkaian kompetisi dengan maksud memperkenalkan teknologi pintar kepada generasi-generasi muda, khususnya siswa-siswi SMA dan sederajat. Dalam pelaksanaannya, ELECTRA VI memiliki empat agenda yaitu: Road to School di sekolah-sekolah menengah atas di wilayah Jawa, Bali dan Kalimantan. Kemudian babak penyisihan yang dilakukan di 14 kota di Indonesia, yaitu Surabaya, Gresik, Malang, Kediri, Mojokerto, Madiun, Bojonegoro, Jember Probolinggo, Pamekasan, Denpasar, Yogyakarta, Balikpapan, dan Jakarta. Lalu dilanjutkan dengan babak perempat final dan semifinal yang akan dilaksanakan di Kampus ITS, Surabaya, dan yang terakhir adalah babak final dimana peserta akan melakukan presentasi tentang studi kasus keelektroan. Kompetisi ini diharapkan dapat menjaring siswa-siswi SMA yang memiliki keterampilan dalam bidang teknologi serta dapat memancing kreatifitas generasi muda untuk berinovasi pada teknologi-teknologi dimasa mendatang. Karena Indonesia membutuhkan generasi muda yang dapat berinovasi dan mengembangkan teknologi agar dapat bersaing di era teknologi ini.

Helios Concentrator

Sebagai Negara Agraris Indonesia memerlukan cukup air untuk sistim pengairan di lahan pertanian . salah satu sektor pertanian yang berkembang salah satunya dikabupaten Tuban. Sistim pengairan yang diterapkan di kabupaten Tuban menggunakan air tanah yang di pompa ke permukaan tanah. Cara memompa air tanah ke permukaan tanah dengan memanfaatkan pompa air yang dipergerakan oleh mesin diesel. Penggunaan mesin diesel ni menyebabkan modal penanaman semakin besar dan gas buangan hasil mesin diesel tidaklah ramah lingkungan,oleh karena itu diciptakanlah sebuah pembangkit dengan inovasi energi terbarukan yaitu Helios Concentrator untuk pompa irigasi pertanian di Kabupaten Tuban. Tujuan utama dari Helios concentrator ini adalah untuk mengurangi penggunaan emisi mesin diesel dengan membuat sumber energi terbarukan pada mesin diesel, sehingga gas buangan pada mesin diesel konvensional dapat dikurangi. selanjutnya yaitu untuk meningkatkan hasil produksi pertanian di Kabupaten Tuban dengan mengurangi nilai modal tanam akibat penggunaan solar pada mesin diesel.

Cara kerja dari Helios Concentrator terbagi menjadi dua sistem utama, yaitu pada sistem pemusatan energi, terdiri dari solar konsentrator dan solar traker. Solar konsentrator akan memantulkan cahaya ke satu tiitk fokus yang bernama focal point. Pada focal point memiliki suhu yang tinggi karena seluruh energi panas matahari dipusatkan pada satu titik fokus. Solar traker berfungsi untuk menggerakan poros dari solar konsentrator dan panel surya untuk mengikuti arah gerak matahari serta untuk meningkatkan efisiensi pantulan sinar matahari ke solar konsetrator dan panel surya. selanjutnya oada sistem konversi energi matahari terdiri dari panel surya, thermoelectric dan liquid cooling. Panel surya berfungsi mengubah energi cahaya menjadi energi listrik dengan memanfaatkan efek photovoltaic, Energi yang dihasilkan disimpan pada baterai accu 12 V untuk mensuplai daya motorik pompa dan kipas. Thermoelectric menyerap panas pada focal point. Dengan prinsip seekback dengan perbedaan panas dari thermoelectric dan liquid cooling maka thermoelectric akan menghasilkan arus dan tegangan. berdasarkan dari hasil uji alat dan survei persentase keutungan yang didapat dari penggunaan energi terbarukan sebesar 86, 52 %.