Juragan Konveksi Tas , Finest

Apa yang kalian ketahui dengan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS? Yap ada banyak. Salah satu yang sering kita dengar dan ketahui dari jurusan-jurusan lain di ITS adalah mahasiswa jurusan teknik elektro ITS terkenal akan prestasi-prestasi riset dan teknologi yang disumbangkan setiap tahunnya. Tapi apakah kalian tahu, ada sisi lain dari mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS yang mungkin kita tidak ketahui yaitu mempunyai bisnis dengan brand dia miliki sendiri. Dia adalah Putut Dwi Wijaya, salah seorang mahasisiwa angkatan 2013 Teknik Elektro ITS dan memiliki kesibukkan yang berbeda dari sebagian besar mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS. Selain disibukkan oleh kuliahnya, dia juga mengembangkan sebuah usaha dalam bidang konveksi tas yang dia beri brand “Finest”.

Putut nama panggilannya memulai bisnis tas Finest tidak sendirian. Dia menggeluti bisnis ini dengan temannya yaitu Irfan Purwito Nugroho, mahasiswa Elektro ITS 2013 juga. Usaha tas Finest ini mulai didirikan pada bulan November tahun 2014. Finest merupakan brand pertama kali yang dimilikinya, sehingga banyak sekali yang dipersiapkan olehnya dimulai dari bahan-bahan tas, label, hangtag, penjahit, cetakan tas, mesin jahit, domain website, dan lain-lain. Oleh karena itu, tas Finest baru dapat dipasarkan diawal tahun 2015 pada bulan Februari. Walau dikatakan sangatlah baru, bisnis ini memiliki prospek yang bagus untuk kedepannya.

Konsep dari brand Finest adalah exklusif dan mengutamakan kualitas. Banyak sekali tas yang beredar di pasar yang terlihat bagus, menarik, namun sebenarnya bahan dalamnya kurang baik kualitasnya. Misalnya seperti menggunakan benang jahit, resleting, maupun headtag yang murah dan kurang bagus kualitasnya. Hal ini bertujuan untuk menekan biaya produksi. Mereka hanya mementingkan tampilan, lalu dengan aksesoris dan branding menarik, mereka menjualnya dengan harga tinggi. Sehingga tidak sedikit konsumen yang akhirnya tertipu dengan tas tersebut setelah membelinya dengan harga mahal. “Kami tidak ingin membohongi konsumen. Walaupun bisnis ini baru, akan tetapi kami berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk konsumen. Kualitas adalah hal yang utama, bukan hanya tampilan luar saja yang menarik tetapi bahan dalamnya jelek” tutur owner Finest.

Contoh Produk Finest

 

Bisnis Finest ini tidaklah mudah bagi Putut dan Irfan. Banyak kendala-kendala yang dihadapinya. Kendala awal yaitu sulitnya mencari bahan-bahan tas yang sesuai dengan kriteria mereka. Misalnya untuk hangtag dan label tas, mereka baru menemukan tempat pembuatan yang cocok setelah mencarinya di seluruh Indonesia selama hampir dua bulan. Hal ini karena mereka menginginkan bahan-bahan terbaik untuk tas Finest, dan berbeda dengan tas yang beredar di pasaran. Hangtag Finest dibuat dari bahan paper art 2×310 gsm (tebal sekitar 2mm) dengan finishing doff, dan label tas dibuat dari kulit sapi asli dengan beberapa modifikasi pada mesin cetak sehingga label “Finest” yang dihasilkan cukup dalam, keras, dan warnanya kontras dibandingkan background kulitnya.

“Kami cukup senang bisa membangun bisnis tas Finest ini. Walaupun awalnya memang agak merepotkan, namun sekarang Alhamdulillah bisa terus berjalan. Bisnis ini sama sekali tidak mengganggu kuliah kami, karena proses produksi dilakukan oleh penjahit kami. Kedepannya, kami ingin menambah karyawan, dan mengembangkan pemasaran kepada distro-distro dan mall. Dengan usaha ini, kami juga berharap bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka yang kurang beruntung. Kami tidak ingin hanya memberi mereka uang yang hanya bisa mereka gunakan sesaat saja. Dengan pekerjaan, semoga mereka bisa terus berpenghasilan, dan itu lebih dihargai Allah SWT karena penghasilan tersebut dari keringat mereka, bukan dari pemberian orang lain” cerita owner tas Finest dengan semangat.

Ayo beli! Kualitas terbaik, Harga sesuai kantong mahasiswa! Ingin punya? Langsung aja order sama ownernya. Siap melayani pesanan. Fast respon! [FAIZ FATHUR]

E-BP

Dokumentasi E-BP

E-BP

'Starting to Become a Real Entrepreneur' merupakan tema yang diangkat pada lomba Electrical Business Plan 2014 (EBP). Lomba EBP ini dimulai dari seleksi proposal, kunjungan kewirausahaan hingga presentasi lima besar finalis yang telah dilaksanakan pada hari Minggu kemarin (02/03/2014).

Didalam serangkaian acara EBP, terdapat kunjungan kewirausahaan yang bertempat di Batik Dewi Saraswati Surabaya. UKM ini bergerak dalam bidang tekstil, khususnya kain batik dari Jawa Timur. UKM ini dimiliki oleh Putu Sulistiani Prabowo. Beliau menjelaskan bahwa UKM ini berdiri sejak tahun 2004. Para peserta yang telah berada di lokasi langsung melihat galeri – galeri batik yang ada dirumah beliau. Tidak hanya itu saja, beliau juga menunjukkan proses membuat batik tulis dari awal hingga jadi. Setelah itu, para peserta juga dipersilahkan untuk mencoba mencanting di atas kain yang merupakan salah satu proses dari membuat kain batik. Banyak sekali ilmu yang didapatkan pada kunjungan kewirausahaan kali ini. Tidak hanya mendapatkan ilmu proses membuat kain batik, tetapi juga mendapatkan ilmu menjadi entrepreneur yang sukses.

Presentasi dari para Finalis EBP dilaksanakan di ruang B-404 Jurusan Teknik Elektro ITS pada hari Minggu. Para Finalis tersebut berjumlah 5 tim yang telah diseleksi dari proposal business plan sebelumnya. Tim-tim tersebut adalah Aerorobotic yang menjual serta memberikan pelatihan kit robot, Doll Matrix dengan inovasi boneka yang digabung dengan moving sign , Lostavo dengan alat efisiensi dayanya, Buah Kampus yang membuat kampus lebih sehat dengan buah dan Junior Elektronik dengan produk elektronikanya. Produk – produk tersebut membuat juri yang hadir untuk menilai presentasi EBP ini terkesima. Hal tersebut terjadi karena ternyata Mahasiswa Elektro ITS memiliki banyak inovasi untuk menjadi entrepreneur, bahkan menjadi technopreneurpun juga sangat memungkinkan.

Berbagai usaha telah dilakukan oleh para finalis untuk menampilkan yang terbaik sehingga terjadi pesaingan yang sengit. Hasilnya Harapan 1 telah diraih oleh Junior Elektronik (Burhanuddin R, M.Adhjaya S.,M.Ismail Marzuki), Harapan 2 oleh Buah Kampus (Rhedylla Dwi P.,Radhif Irzan M.), Juara 3 oleh Lostavo (Rijalul Fikri), Juara 2 oleh Doll Matrix (Nor Ain Firdaus, Rifyal R., M. Helmi Maulana), dan Juara 1 diraih oleh Aerorobotic (Irfan Fachrudin P.,Muhammad Arifin). Harapan dari para finalis ini adalah jangan berhenti sampai disini, teruslah menjadi entrepreneur yang sukses.(AF)

Ketika Bisnis Sudah Menjadi Bagian Hidup

Nama : Candra PradiptaTTL : Gresik, 19 April 1991

Jurusan : Teknik Elektro ITS

Bidang Studi : Sistem Tenaga

Angkatan : 2009 / e 49

Candra Pradipta merupakan sosok yang patut disorot bagi seorang mahasiswa. Kini dia sedang menjalani masa perkuliahannya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya dan mengambil Jurusan Teknik Elektro. Dimasa- masa mahasiswa dituntut menjadi agen perubahan untuk sebuah bangsa, tentu banyak jalan dalam yang dapat dipilih. Pria yang akrab dipanggil Candra ini memilih dibidang entrepreneur atau bisnis dimasa- masa kuliahnya. Diketahui bersama suatu negara dikatakan maju ketika masyarakatnya menjadi entrepreneur minimalnya 2 persen.

Saat ini bisnis yang digelutinya bermacam- macam mulai dari jenis website tentang jajanan Surabaya yaitu tastysurabaya.com, jasa kos- kosan dan distributor minuman tradisional. Fokus bisnis yang sedang digelutinya adalah distributor minuman tradisional HANJUANG dari Bandung, minuman tersebut merupakan produk rumahan yang sudah dapat penghargaan dari Pemerintah. Produk minuman tradisional HANJUANG berbentuk sachet yang dapat larut dalam air, dengan rasa jahe dan rempah, original bandrek dan bajigur.

Dalam pemasaran, sudah pernah dipasarkan di Surabaya tapi di Surabaya menemui beberapa kendala orang Surabaya tidak suka yang panas- panas dan kurang suka minuman tradisional sehingga dianggap kawasan Surabaya kurang sesuai dengan pemasaran minuman tradional ini. Candra yang sudah menggeluti beberapa bisnis sebelumnya tidak habis pikir, bermodal pengalaman dia mencoba memasarkan secara pribadi kedosen- dosen Teknik Elektro, hasilnya banyak dosen yang tertarik. Untuk lebih melebarkan sayap Candra mencoba mensurvei beberapa lokasi, hasilnya Gresik kini menjadi target utama pemasarannya. Dengan menggeluti bisnis sebagai distributor, dia mentargetkan memperoleh omset minimal 2 juta per bulan.

By : Raditya Anggaprawira  dan Alfa Khusnal Faizin